Minggu, 30 November 2014

10 Faktor Penyebab Hati menjadi Mati

Buletin online Fk-Pontren
kiriman dari: KH. Fahmi Asy'ari, M.Ag
Dewan Pembina FK-PONTREN
Senin, 1 Desember 2014

Syaqiq Al-Balkhi berkata:"Ibrahim bin Adham suatu hari berjalan jalan di pasar Basrah, lalu orang orang berkumpul mengerumuninya, dan mereka bertanya tentang firman Allah: "Berdo'alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan do'a kalian".  Kami bertahun tahun telah berdo'a, tapi mengapa Allah belum juga mengabulkan permohonan kami?. Ibrahim bin Adham menjawab: "Hati kamu sekalian mati karena 10 perkara"

1. Kamu mengenal Allah, tapi kamu tidak menunaikan hak-Nya.

2. Kamu membaca Kitab, tapi kamu tidak mau mengamalkannya.

3. Kamu mengaku bermusuhan dengan iblis, tapi kamu mengikuti tuntunannya.

4. Kamu mengaku meneladani Rasul, tapi kamu meninggalkan tingkah laku dan sunnahnya.

5. Kamu mengaku senang terhadap surga, tapi kamu tidak berusaha menuju padanya.

6. Kamu mengaku takut terhadap neraka, tapi kamu tidak mengakhiri perbuatan perbuatan dosa.

7. Kamu tahu dan mengakui bahwa mati itu pasti, tapi kamu tidak mempersiapkan diri untuk mengahadapinya.

8. Kamu asyik dan gemar meneliti aib-aib orang lain, tapi kamu justru melupakan aib-aib diri kamu sendiri.

9. Kamu makan dari rezeki yang Allah berikan kepadamu, tapi kamu tidak pernah besyukur kepada-Nya.

10. Kamu mengubur orang-orang yang sudah mati, tapi kamu tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Maka bagi mereka yang belum diijabah do'anya, mungkin 10 faktor diatas perlu dicoba dan diupayakan agar apa yang dihajatkan bisa terwujud.

Rabu, 26 November 2014

Mengapa Mengeluh ?

Buletin online Fk-Pontren

Mengapa kau mengeluh rezekinya sempit, padahal pekerjaan yang kau lakukan kualitasnya memang hanya recehan dan kau terjebak pada rutinitas yang menjemukan? Rezeki memang datang dari Allah tetapi bagaimana agar rezeki datang kepadamu dengan deras, tugasmulah yang menciptakan jalannya.

Jangan berharap sesuatu yang besar bila nyalimu kecil, pekerjaanmu tak berkualitas dan kau tak berani melakukan terobosan.

Mengapa kau mengeluh banyak hutang, padahal itu ulah perilakumu yang lebih mengedepankan keinginan dari pada kebutuhan? Lebih mengedepankan gengsi dibandingkan esensi. Lebih mengedepankan pujian orang daripada menata dan memperbaiki kehidupanmu.

Mengapa kau mengeluh karir atau bisnismu stagnan, bukankah itu akumulasi dari perilakumu selama ini? Kerja asal kerja, bisnis asal bisnis. Sesuatu yang dilakukan asal-asalan hasilnya merugikan. Terlihat kerja tetapi menyiksa. Terlihat sibuk tapi tak menghasilkan. Lelah tapi tak dapat rupiah. Lelah tapi tak tercatat sebagai ibadah.

Mengapa kau mengeluh ini dan itu padahal perilakumu juga cuma ini dan itu. Tahu diri dong kalau mau ngeluh. Semua yang terjadi itu karena ulahmu. So, mengapa kau harus mengeluh? Bukankah itu berarti “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri?”

Mengeluh itu manusiawi tetapi bila terlalu banyak mengeluh itu artinya hidupmu sedang jatuh ke dasar bumi.

Jamil Azzaini

BELAJAR MENGHIBUR GURU

Buletin online Fk-Pontren
26 November 2014
Dari: KH. Maslul Zahid (Sampang)
Rois Majlis Al-Mahidiin

Al-Imam Ali Karromallahu Wajha berkata:
Aku adalah hamba dari seorang yang mengajariku satu huruf sekalipun.

Betapa tawadhu' beliau,  betapa pandainya beliau bersyukur pada gurunya.
Padahal beliau adalah pintu ilmu sebagaimana di sebutkan dalam hadits.

■ Yang mengajar alif dan ba' itu guru.
■ Mengajar safinah itu guru.
■ Mengajar minhaj dan seterusnya juga guru.
■ Yang mengajari kita saat masih kecil dan dewasa juga guru.
■ Mengajar di kampung, kota, dalam negeri dan luar negeri sama saja mereka tetap guru kita.
■ Jangan pernah merasa malu menjadi murid hanya karna guru yang dulu tidak sehebat guru kalian yg sekarang.

Sangat buruk prilaku murid yang memposisikan dirinya seperti juri kontes kemuliaan guru, juga mengatakan bahwa guru saya yang ini afdhol dari yang itu, yang di sana lebih baik dari yang di sini dll.

Saya pernah bertemu dengan banyak guru yang kecewa pada murid yang di didiknya bukan karna murid itu nakal atau bodoh tapi karna kurang peka menghormati guru bahkan untuk berjabat tangan dan sedikit berbasa basi pun enggan karena merasa sudah punya banyak pengikut dan berpengaruh.

Bagaimana murid bisa di bilang sukses kalau tidak punya akhlak pada guru nya?
Contohlah Imam Ali R.A yang begitu alim tetapi tawadhu' bahkan pada guru sekecil apapun dia.

Tugas murid mencintai, menghormati dan tidak meremehkan guru.
Pandai-pandai lah menjaga perasaan mereka, kalau menyakiti orang saja dosanya lebih besar dari pada menghancurkan ka'bah, bagaimana kalau kita meremehkan guru?!
Ibadah paling afdhol setelah yang fardhu adalah menyenangkan hati seorang mukmin, bagaimana besar pahala jika kita dapat menghibur hati guru?.